Kamis, 26 Februari 2015

SEMASA Program perdana tim Pandeglang

SEMASA Program perdana tim Pandeglang

SEMASA merupakan singakatan dari Sekolah Masyarakat Desa yang ditujuka untuk anak-anak berusia 4-6 tahun yang belum bisa CALISTUNG (membaca, menulis dan berhitung). Program ini dilaksanakan Rabu, 25 Februari 2015 tepat pukul 10.00 WIB lalu di Kec. Cimanggu Kab. Padeglang-Banten. Ini merupakan program pertama dan perdana dilaksanakan di Kp. Cijalarang Desa Tagelan  Kec. Cimanggu oleh tim Pandeglang Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan 7. Masih ada beberapa lagi program yang tambahan yang InsyaAllah akan dilaksanakan selama setahun yaitu INIBERSIH (Inisiatif Air Bersih), MARAKCIS (Masyarakat Cinta Islam) dan INSAFS (Inspiring Class For Students).

Berdasarkan assesment yang sudah dilakukan di kecamtan masing-masing, di Desa Tagelan lah yang berpotensi untuk diadakannya program SEMASA ini. Menurut data yang didapatkan bahwa Desa tersebut terdapat anak-anak yang masih berusia PAUD dan TK tetapi mereka hanya dibawa saja ke kebun menemani orang tua mereka. Selain itu anak-anak yang tidak punya basic membaca, menulis dan berhitung nantinya akan sulit menerima pembelajaran ketika masuk SD. Maka dari itu program SEMASA ini kami buat agar anak-anak tidak hanya bermain tetapi mereka juga bisa sambil belajar.
Dengan memulai pembelajaran pertama yaitu perkenalan dilanjutkan dengan mengajari mereka membuat garis lurus di kertas yang sudah kami sediakan. Kertas tersebut berisikan kotak-kotak besar dengan garis putus-putus.
Pembelajaran tersebut berakhir dengan pemberian nilai dengan conten bintang bukan angka. Jika mendapatkan 5 bintang berarti garis mereka sempurna dan tebal. Tetapi jika garis yang mereka buat masih kurang tebal, mereka hanya mendapatkan 3bintang. (Nur/27/2)


Sabtu, 31 Januari 2015

AKSI MULA TIM BADAK JAWA di NEGERI UJUNG KULON



AKSI MULA TIM  BADAK  JAWA di NEGERI UJUNG KULON

Pandeglang adalah tempat yang diamanahkan pada kami untuk  mengabdikan diri sebagai relawan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa. Terbagi ke dalam 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Cibaliung (Heriyanto), Kecamatan Cimanggu (Ulfa Wardani), Kecamaatan Cibitung (Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo), Kecamatan Cikeusik (Januarita Sasni) dan Kecamatan Sindang Resmi (Nurhasanah dan Fitrianti). 
            Berangkat pukul 02.35 WIB dari Bogor menuju Pandelang tepat tanggal 16 Januari 2015, dengan Pak Neming, exsecutive driver Dompet Dhuafa. Dengan membawa banyak sekali barang-barag yang sebagian kecilnya adalah tools perang di Negeri Badak Jawa ini. Kami rela bersempit-sempitan dan harus berbagi oxigen di dalam mobil APV yang mengantarkan sampai ketujuan.
            Di hari pertama ini, tujuan yang akan kami tempuh adalah ke DIKNAS Pandeglang setempat. Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang akhirnya kamipun tertidur pulas dimobil. Tak berapa lama, kami mendengar adzan subuh, lalu kami pun berhenti sejenak untuk menunaikan sholat shubuh. Setelah selesai, kami pun memulai perjalanan kembali menuju ke kota Pandeglang. Sudah hampir jam  06.00 WIB, pak Neming memberhentikan mobilnya untuk menyuruh agar kami bersiap-siap menuju ke DIKNAS.
            “Bangun-bangun, siap-siap mah, biar ke DIKNAS dulu. Jangan gitu mukanya mah, mandi sono”, ujar Pak Neming.
            “Iya Pak, bentar lagi nunggu antrian mah, “ Ujarku.
            Mandi bergiliran, sambil menunggu antrin aku mendengarkan musik kesayanganku. Tak berapa lama kemudian giliranku yang mandi, ternyata airnya sudah tak bisa mengalir, terpaksa aku haru mencuci muka saja. Walau aku sudah merasa badanku bau sekali. Tapi tak apalah yang penting mukaku sudah tidak terlihat kusut lagi.
            Selesai mandi aku bergegas untuk sarapan pagi di warung terdekat dimana yang lainnya sudah sarapan. Selesai giliranku mandi mas Heri yang mandi dilanjutkan dengan Sapto. Sapto selesai mandi dan sarapan pagi ditempat yang sama. Setelah itu kamipun menuju DIKNAS yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat parkir mobil kami.
            Sesampai disana kami bertemu dengan SEKDIKNAS dan beberapa kepala sekolah yang berkesempatan dapat hadir di sana. Kami berbincang-bincang mengenai letak geografis wilayah dari masing-masing kecamtan yang akan ditempati. Setelah berbincang-bincang sangat lama, maka Kak Heni meminta para kepala sekolah untuk menandatangani MoU yang telah dibuat. Seperti biasa seusai penandatangan MoU kami pun berfoto sebagai bukti pertemuan kami dengan para aparatur DINAS Pandeglang.
            Tak hanya itu saja, kami mengantarkan surat pemberitahuan ke POLRES Pandeglang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat penginapan yang bisa kami tempati agar bisa beristirahat sebagai persiapan untuk perjalanan esok yaitu mengantarkan para Relawan Pendidikan di tempat tugas mereka masing-masing.

Relawan Pendidikan di Negeri Badak Jawa



RELAWAN PENDIDIKAN di NEGERI BADAK
Part 1
Oleh : Nurhasanah, S. Pd
Relawan Pendidikan asal Medan
Sekolah Guru Indonesia (SGI) adalah salah satu jejaring  divisi pendidikan Dompet Dhuafa yang menjaring guru dari setiap daerah dengan komitmen melahirkan guru 3P. Guru 3P yang dimaksud adalah guru yang transformatif dimana seorang guru tidak hanya memiliki kompetensi mengajar dan mendidik saja tetapi juga berjiwa kepemimpinan sosial. SGI didedikasikan untuk para pemuda yang siap mengabdikan dirinya menjadi guru demi kemajuan pendidikan di seluruh penjuru Nusantara.
Pada tahun 2009, Sekolah Guru Indonesia (SGI) telah membina 5 angkatan dengan total 158 Guru dan telah ditempatkan di 121 titik di 31 kabupaten daerah tertinggal, terluar dan terdepan seluruh Indonesia.
Mahasiswa yang tersaring dari berbagai daerah sebelumnya  mengikuti berbagai seleksi atau tes yang diadakan di daerah masing-masing. Alur penyeleksian yang harus diikuti oleh seorang calon mahasiswa tersebut:
1.      Mengikuti seleksi administrasi berdasarkan persyaratan yang diajukan oleh pihak Management SGI
2.      Setelah dinyatakan lulus seleksi administrasi (berkas), calon mahasiswa berhak mengikuti seleksi wawancara dan micro teaching  yang diadakan di wilayah yang telah dipilih oleh calon mahasiswa
3.      Setelah seleksi tahap kedua dinyatakan lulus maka calon mahasiswa SGI harus mengikuti masa pembinaan selama 4, 5 bulan di Bogor (perkuliahan-magang-SHARE)
4.      Selanjutnya ketika sudah mengikuti masa pembinaan tersebut diatas, maka mahasiswa tersebut akan siap untuk ditempatkan di daerah marginal seperti yang sudah ditetapkan oleh management SGI.

Setiap tahunnya SGI menjaring guru dari berbagai daerah sebanyak 60 (enam puluh orang) untuk 2 (dua) angkatan atau 2 (dua) semester. Kini SGI sudah menjaring 7 (tujuh) angkatan. Sebanyak 5 (lima) angkatan telah dikembalikan ke daerah masing-masing. Angkatan 6 (enam) beberapa bulan lagi akan ditarik ke Bogor, dan angkatan 7 (tujuh) terdiri dari 30 orang mahasiswa dari berbagai daerah Nuasantara baru saja ditempatkan di beberapa wilayah Kabupaten di Indonesia. Diantaranya di Kab. Pandeglang, Kab. Nunukan, Kab. Kuburaya, Kab. Wakatobi dan Kab. Sumbawa Barat. Tiap wilayah dibagi kedalam 5 tim dna masing-masing tim terdiri dari 6 orang mahasiswa SGI.
Di wilayah Kabupaten Pandeglang saat ini sudah dikirim 6 orang guru relawan yang siap berkiprah di dunia pendidikan. Keenam guru relawan tersebutpun berasal dari berbagai daerah dengan seorang team Leader. Keenam orang tersebut adalah Heriyanto sebagai Team Leader (Sumbawa Barat), Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo sebagai Sekretaris Team (Sulawesi Tenggara), Fitrianti (Sulawesi Selatan), Januarita Sasni sebagai Bendahara Team (Sumatera Barat), Nurhasanah dan Ulfa Wardani (Sumatera Utara).
Guru relawan tersebut ditempatkan di daerah yang marginal pula, tepatnya di wilayah Pandeglang bagian Selatan. Letaknya pun tidak begitu dekat, semuanya ditempatkan didaerah yang sangat berjauhan. Setiap orang ditempatkan pada beberapa kecamatan yaitu Heriyanto dan Januarita Sasni (Kec. Cibaliung), Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo (Kec. Cibitung), Ulfa Wardani (Kec. Cimanggu) serta Nurhasanah dan Fitrianti (Kec. Sindang Resmi).
Semua relawan ini ditempatkan di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah di masing-masing kecamatan. Sekolah tersebut adalah SDN Kutakarang 01-Cibitung (Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo), SDN Sindang Resmi 02- Sindang Resmi (Nurhasanah), MI Ciherang (Heriyanto), MI Muhammadiyah Bojong Manik (Fitrianti), MI Miftahul Huda (Ulfa Wardani) dan MI Nurul Hikmah (Januarita Sasni).
Selama di penempatan, Guru Relawan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa (SGI DD) mempunyai banyak program atau target yang harus dicapai. Diantaranya ada 9 program individu dan 3 program team. Selain 12  program wajib tersebut, ada lagi program unggulang bagi masing-masing team yang ditempatkan di pelbagai wilayah kabupaten. Untuk wilayah kabupaten Pandeglang sendiri, mempunyai 4 program unggulan, yaitu SEMASA (Sekolah Masyarakat deSA), MARAKCIS (MAsyaRAKat Cinta Islam), INIBERSIH (INisiatif aIr BERSIH) dan INSAFS (INSpiring clAss For Students).
Selama 4 hari perjalanan mengantarkan para guru ke daerah masing-masing bersama seorang personal TA (Technical Assistent) bernama Saudari Henita Damanik, S. Pd SGI. Beliau adalah SGI V yang baru saja di wisuda awal Desember 2014 dan diangkat menjadi salah satu management awal Januari 2015. Tugas pertama beliau adalah mengantarkan SGI VII yang siap mengabdi di daerah marginal khususnya di daerah Pandeglang bagian selatan.
Sudah hampir 9 hari di Negeri Badak Jawa ini, para guru relawan yang awalnya berada di daerah pedesaan ini, kini ingin memperkuat sayap mereka dengan menyambangi berbagai instansi atau lembaga pemerintahan sekitar kabupaten serta media lokal. Tujuannya tidak lain adalah ingin bersilaturrahmi, bersosialisasi tentang program team Pandeglang dan menjalin kerjasama dengan pihak terkait.
Kini Tim Pandeglang sudah menyambangi beberapa instansi dan media lokal di kabupaten ini, diantaranya DIKNAS, DEPAG, POLRES, DINKES, Radio PARANTI dan Radio BERKAH. Masih banyak lagi instansi dan media lokal yang menjadi target silaturahmi tim ini.(24/1/Nur)

















RELAWAN PENDIDIKAN di NEGERI BADAK
Part 2
Tak hanya ingin berkiprah di Kabupaten Pandeglang saja, SGI DD VII tim Pandeglang sendiri kini menyambangi negeri para jawara. Banten, di sinilah perjalanan itu kembali dimulai. Bersinggah di markas Dompet Dhuafa Banten, disambut hangat oleh Pak Mokhlas dan Pak Utsman serta rekan kerja mereka lainnya.
Berbincang mengenai perjalanan SGI DD V tahun lalu sekaligus memperkenalkan diri para guru relawan pendidikan yang baru yaitu SGI DD VII tim Pandeglang.  

Sabtu, 15 November 2014

Senandung Ukhuwah SDN TEGAL JAYA 2 aaaeeee BERIRAMA

Diawal kita bersua,
mencoba untuk saling memahami.
Keping-keping di hati terajut dengan indah,
rasakan persaudaraan kita.

Dan masa-pun silih berganti,
ukhuwah dan amanah tertunaikan.
Berpeluh suka dan duka,
kita jalani semua semata-mata harapkan ridho-Nya.

Sahabat, tibalah masanya,
bersua pasti ada berpisah.
Bila nanti kita jauh berpisah,
jadikan rabithoh pengikatnya,
jadikan do'a ekspiresi rindu.
Semoga kita bersua di surga.

Dan masa-pun silih berganti,
ukhuwah dan amanah tertunaikan.
Berpeluh suka dan duka,
kita jalani semua,
semata-mata harapkan ridho-Nya.

Sahabat, tibalah masanya,
bersua pasti ada berpisah.
Bila nanti kita jauh berpisah,
jadikan rabithoh pengikatnya,
jadikan do'a ekspiresi rindu.
Semoga kita bersua di surga.
— bersama Frima Rahmulia dan Peni Yanda.
 

Display kelas V SDN TEGAL JAYA 2 Kerukunan dalam Bermasyarakat

Display di kelas V SDN TEGAL JAYA 02 ala Bu Nur Hasanah Rangkuti
dengan tema : KERUKUNAN dalam BERMASYARAKAT
Sekolah Guru Indonesia - Dompet Dhuafa
Sekolah Guru Indonesia Angkatan VII


Minggu, 02 November 2014

Apa Yang Menghalangimu Untuk Belum Berhijab Wahai Saudariku

Apa Yang Menghalangimu Untuk Belum Berhijab Wahai Saudariku 
 
Hijab adalah pakaian wanita muslim yang menutup bagian kepala sampai dengan kaki (termasuk didalamnya jilbab/tudung dan pakaian yang longgar tidak memperlihatkan lekuk tubuh). Bagi orang awam, masalah hijab mungkin dianggap masalah sederhana. Padahal sesungguhnya, ia adalah masalah besar. Karena ia adalah perintah Allah SWT yang tentu didalamnya mengandung hikmah yang banyak dan sangat besar. Ketika Allah SWT memerintahkan kita suatu perintah, Dia Maha Mengetahui bahwa perintah itu adalah untuk kebaikan kita dan salah satu sebab tercapainya kebahagiaan, kemuliaan dan keagungan wanita.
Seperti firman Allah SWT: "Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggunya”.(QS. Al Ahzab:59)
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda: "Akan ada di akhir umatku kaum lelaki yang menunggang pelana seperti layaknya kaum lelaki, mereka turun di depan pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian (tetapi) telanjang, diatas kepala mereka (terdapat suatu) seperti punuk onta yg lemah gemulai. Laknatlah mereka! Sesunggunya mereka adalah wanita -wanita terlaknat."(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad(2/33))
Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga pernah bersabda: “Dua kelompok termasuk penghuni Neraka, Aku (sendiri) belum pernah melihat mereka, yaitu seperti orang yg membawa cemeti seperti ekor sapi, dengannya mereka mencambuki manusia dan para wanita yg berpakaian (tetapi ) telanjang, bergoyang berlenggak lenggok, kepala mereka (ada suatu) seperti punuk unta yg bergoyang goyang. Mereka tentu tidak akan masuk Surga, bahkan tidak mendapat baunya. Dan sesungguhnya bau Surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian."(HR. Muslim, hadits no. 2128).
Dimasa kini banyak alasan atau sebab yang sering dijadikan alasan mengapa para wanita enggan untuk berhijab, diantaranya:
1. Belum mantap
Bila ukhti/saudari berdalih dengan syubhat ini hendaknya bisa membedakan antara dua hal. Yakni antara perintah Tuhan dengan perintah manusia. Selagi masih dalam perintah manusia, maka seseorang tidak bisa dipaksa untuk menerimanya. Tapi bila perintah itu dari Allah SWT tidak ada alasan bagi manusia untuk mengatakan saya belum mantap, karena bisa menyeret manusia pada bahaya besar yaitu keluar dari agama Allah SWT sebab dengan begitu ia tidak percaya dan meragukan kebenaran perintah tersebut.
Allah SWT berfirman Allah: "Dan tidak patut bagi lelaki mukmin dan wanita mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah SWT dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)
2. Iman itu letaknya di hati bukan dalam penampilan luar
Para ukhti/saudari yang belum berhijab berusaha menafsirkan hadist, tetapi tidak sesuai dengan yang dimaksudkan, seperti sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalam: “Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu tapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian.”(HR. Muslim, Hadist no. 2564 dari Abu Hurairah).
Tampaknya mereka menggugurkan makna sebenarnya yang dibelokkan pada kebathilan. Memang benar Iman itu letaknya dihati tapi Iman itu tidak sempurna bila dalam hati saja. Iman dalam hati semata tidak cukup menyelamatkan diri dari Neraka dan mendapat Surga. Karena definisi Iman Menurut jumhur ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah: "keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pelaksanaan dengan anggota badan". Dan juga tercantum dalam Al-Quran setiap kali disebut kata Iman, selalu disertai dengan amal, seperti: "Orang yg beriman dan beramal shalih....". Karena amal selalu beriringan dengan iman, keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan.
3. Allah belum memberiku hidayah
Ukhti/saudari yang seperti ini terperosok dalam kekeliruan yang nyata. Karena bila orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain mendo'akan dirinya agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya sehingga mendapatkan hidayah tersebut. Seperti firman Allah SWT: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra'd: 11).
Karena itu wahai uhkti/saudari, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya Anda mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah SWT. Diatara usaha itu adalah berdo'a agar mendapat hidayah, memilih kawan yang shalihah, selalu membaca, mempelajari dan merenungkan Kitab Allah, mengikuti majelis dzikir dan ceramah agama dan lainnya.
4.Takut tidak laku nikah
Syubhat ini dibisikkan oleh setan dalam jiwa karena perasaan bahwa para pemuda tidak akan mau memutuskan untuk menikah kecuali jika dia telah melihat badan, rambut, kulit, kecantikan dan perhiasan sang gadis. Meskipun kecantikan merupakan salah satu sebab paling pokok dalam pernikahan, tetapi ia bukan satu-satunya sebab dinikahinya wanita.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Wanita itu dinikahi karena empat hal; yaitu karena harta, keturunan, kecantikan dan agamanya. Dapatkanlah wanita yg berpegang teguh dengan agama,(jika tidak) niscaya kedua tanganmu berlumur debu". (HR. Al Bukhari, kitaabun nikah,9/115).
5. Ia masih belum Dewasa
Sesungguhnya para wali, baik ayah atau ibu yang mencegah anak puterinya berhijab, dengan dalih karena masih belum dewasa, mereka mempunyai tanggung jawab yang besar dihadapan Allah SWT pada hari Kiamat. Karena menurut syariat ketika seorang gadis mendapatkan Haidh, seketika itu pula ia wajib untuk berhijab.
6. Orang tuaku dan suamiku melarang berhijab
Dasar permasalahan ini adalah bahwa ketaatan kepada Allah SWT harus didahulukan daripada keta’atan kepada mahluk siapa pun dia. Seperti dalam hadits shahih disebutkan:
"sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan." (HR. Al Bukhari dan Muslim). Dan sabda Rasul dalam hadist lainnya: "Dan tidak boleh ta'at kepada mahluk dengan mendurhakai (bermaksiat) kepada Al-Khaliq." (HR. Imam Ahmad, hadits ini shahih).
Maka dari itu wahai ukhti yang belum berhijab, semoga tulisan ini mejadi pembuka hati yang terkunci, menggetarkan perasaan yg tertidur, sehingga bisa mengembalikan segenap akhwat yang belum menta’ati perintah berhijab, kepada fitrah yang telah diperintahkan Allah SWT.
(Dikutip dari buku terjemahan yg berjudul asli Ila Ukhti Ghairil Muhajjabah Mal Maani'u Minal Hijab? oleh Syaikh Abdul Hamid Al Bilaly).
Wallahu A’lam.
Hj. Dewi Setiani
Penulis berdomisili di Jogjakarta.
Sumber: kafemuslimah.com

Ta'aruf, Nikah tanpa Cinta ?????

Ta’aruf, Nikah Tanpa Cinta?

Pernikahan merupakan ibadah yang memiliki tempat mulia di sisi Allah swt. Tak sedikit dalam bingkai syariat membicarakan tentang pernikahan, apakah itu di dalam Al Quran ataupun hadist-hadist Rasulullah saw. Ketika pernikahan ini berhubungan dengan ibadah maka ibadah tersebut hanyalah akan bernilai di sisi Allah swt jika sesuai dengan bingkai syariat yaitu bingkai Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw.
Rasulullah saw bersabda :
“Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”.
Tentunya kita tidak ingin serangkaian ibadah ini menjadi tertolak dikarenakan kita melakukan hal-hal yang tidak disandarkan pada Al Quran dan sunnah Rasulullah saw bukan hanya saat prosesi pernikahan saja tapi juga bagaimana jalan menuju pernikahan tersebut.
Apa itu ta’aruf?
Ta’aruf dalam makna umum yang kita ketahui bersama adalah perkenalan, lalu kemudian makna ini dipersempit menjadi proses perkenalan menuju pernikahan dikalangan aktivis dakwah.
Proses ta’aruf yang digunakan sebagai jalan menuju pernikahan tentulah bukan proses seperti orang pacaran atau istilah PDKT (pendekatan). Tapi kemudian proses ini dibingkai sedemikian rupa sehingga nilai ibadah dari proses hingga menuju pernikahan tetaplah terjaga. Dan pastinya proses taaruf yang dibingkai dengan syariat ini bukanlah seperti “taaruf”nya ustadz-ustadz selebriti di televisi.
Proses ini tidak mengenal yang namanya saling sms-an apalagi bbm-an, dua-duaan jalan-jalan apalagi baca quran, belum lagi sering cheting dan fecebookan dengan bingkai taaruf yang berujung tidak jauh beda dengan yang namanya pacaran. Walaupun ngebangunin buat tahajud malam, tetap saja ini bukanlah sebuah proses yang syar’I menuju pernikahan.
Ta’aruf, nikah tanpa cinta?
Berarti ta’aruf itukan menikah tanpa ada cinta? Pastilah akan meuncul pertanyaan yang sangat besar didalam benak. Nah, sebelum dibahas lebih jauh, baca bismillah dulu. Semoga setelah membaca sedikit penjelasan singkat ini pacarnya mau diputusin, atau kalau sering sms-an ama ikhwan atau ikhwat bisa disadari bahwa itu bukanlah cinta tapi justru menghapus cinta bahkan bisa menjadi nista.
Ketika kita berbicara tentang cinta, maka kita akan menemukan sesuatu yang abstrak didalamnya. Apakah
benar cinta itu karena cantik, karena harokinya luar biasa, karena pintar, atau karena alasan-alasan lainnya? Atau itu justru sebenarnya lebih kepada rasa suka yang dibalut oleh hawa nafsu semata, karena ketika hal-hal kita sukai tersebut tak kita dapati lagi maka hilang pulalah rasa suka tersebut.
Lalu bagaimana mungkin seseorang itu bisa menikah tanpa cinta?
Yang kita pahami selama ini adalah bahwa rasa cinta itu ada pada suatu pertemuan dimana membuat jantung berdebar kencang dan dada terasa sesak dibuatnya, padahal itu bukanlah cinta.
Allah swt mangatakan didalam Al Quran :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (an-Nuur : 26)
Jika kita bersama mencoba untuk memahami apa arti cinta pada ayat di atas maka sejak kapankah cinta itu ada hingga kemudian Allah swt mempertemukan cinta itu dalam bingkai yang bernama pernikahan? Dan kemudian harus percayakah kita dengan proses yang namanya pacaran atau taarufan gaya ustadz selebritis yang ada? Dengan argument bahwa ini adalah proses memupuk cinta sebelum menuju pernikahan?
Cinta itu ternyata telah ada jauh sebelum pernikahan itu ada. Allah swt akan mempertemukan orang-orang yang mencintai apa-apa yang sama-sama mereka cintai. Ketika sama-sama mencintai maksiat maka itulah yang menjadi landasan cinta mereka dan begitupula ketika sama-sama mencitai Allah swt maka itulah yang akan menjadi landasan cinta mereka sehingga tidak ada lagi hal yang perlu ditumbuhkan atau dipupuk dan justru hanya tinggal menuai hasil setelah proses pernikahan dilangsungkan.
Jadi benarkah taaruf itu menikah tanpa cinta?
Sumber :situs PP SALIMAH

Selasa, 09 September 2014

Donat Donat Berbaris



Donat Donat Berbaris
Pagi itu, aku tak melihat sosok anak yang selalu menjajakan dagangan donatnya dilapangan dekat skolah tempat aku mengajar. Senyumnya seakan menghilang tanpa bekas dilapang itu. Aku terus mencari keberadaan anak itu. Dalam hati ku berkata, ada apa dengan gadis kecil itu? kemana dia pergi hari ini? Dimana senyum itu saat ini berada?
Sebut saja Wati, gadis kecil yang berusia kurang lebih 7 tahun itu selalu datang ke lapangan sekolah dasar tempat aku mengajar. Dia datang hanya untuk menjual dagangannya. Ia menjual donat. Donat itu adalah buatan ibunya dan enak sekali. Tidak hanya itu, kadang-kadang ia juga menjual es lilin. Es lilin itu bukanlah ibunya yang buat, melainkan orang lain yang meminta ia menjualkan di sekolah. Donat dan es lilin  yang ia jual masing-masing seharga Rp 500,00.
Wati yang seharusnya duduk dibangku sekolah kini harus menjajakan dagangannya guna menyambung hidup demi membantu ayah dan ibunya. Dia tidak pernah mengenyam bangku sekolah layaknya anak seusianya akhirnya harus menanggu penderitaan mencari uang mengingat ayahnya hanyalah seorang pemecah batu dan ibunya seorang petani sayur sawi yang harus menghidupi kedelapan anak mereka termasuk wati. Wati adalah anak ke-5 dari 8 saudaranya. Dia memiliki 4 orang kakak laki-laki dan 3 orang adik perempuan. Ke empat kakak laki-lakinya menderita penyakit Folio. Anak pertama dari pasangan Syafi’i dan Maria sebut saja Fatih menderita penyakit itu sejak usianya 3 tahun. Deni (anak kedua) menderita penyakit itu sejak lahir. Dan 2 orang saudaranya yang lain adalah Dafa dan Dafi menderita penyakit ini sejak umur 3 bulan. Penyakit ini didiagnosa merupakan penyakit keturunan dari kakek mereka. Mereka sekarang hanya bisa berdiam diri dirumah. Ibunya yang mengurus mereka berempat hanya bisa pasrah, sabar dan ikhlas menjalani apa yang sudah Allah berikan dan takdirkan pada keluarganya.
Pernah suatu ketika aku menemui orang tua Wati dirumah. Awalnya aku ingin menemui Wati, tetapi dia sedang pergi bermain bersama temannya dikampung sebelah. Aku pun mulai berbicara masalah pengobatan kepada pak Syafi’i dengan nada suara yang rendah. Terlihat keempat anaknya sedang berbaring diatas tempat yang hanya beralaska tikar pandan yang sudah usang itu. Mereka adalah keempat kakak laki-laki Wati yang tadi aku ceritakan. Karena keterbatasan biayalah orang tua Wati tidak mampu mengobati keempat kakaknya.
“Wong saya hanya seorang buruh bu Nana, mana cukup uangnya untuk membiayai pengobatan keempat anak saya ini, untuk makan saja sudah alhamdulillah,” ujar pak Syafi’i.
“Pak, sekarang pemerintah sudah buat program untuk kesehatan. Namanya ASKES, nah sekarang sudah diganti namanya jadi BPJS atuh pak, sok diurus atuh pak, supaya bisa obatin anak-anak bapak. Biar sembuh lah. Jadi mereka bisa bersekolah atuh pak,”saranku kepada pria tua yang sudah bungkuk itu.
“Tetap aja neng, wong saya tidak sekolah gini, jadi saya tidak tahu gimana caranya mengurus surat-suratnya neng,”tambah pak Syafi’i.
Aku hanya terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Tetapi apalah daya, aku hanyalah seorang guru dengan gaji yang pas-pasan. Uang gajiku habis hanya untuk membayar tagihan rumah kontrakan. Untuk makan saja aku haru mencari tambahan. Tak apalah, sebelum aku pulang aku memberikan uang gaji yang tersisa disaku kananku. Berharap, Pak Syafi’i dan keluarganya bisa makan enak malam ini. Mungkin uang yang hanya Rp 50.000,00 ini bermanfaat bagi keluarga kecil pak Syafi’i.
Aku pun pulang dengan harapan hampa. Berharap dengan gadis kecil penjual donat itu dirumahnya, tapi aku tak jumpa. Hmmm, sejenak berfikir dan berkata dalam hatiku, besok aku akan bertemu dengannya dilapangan sekolah.
Waktu terus berlalu. Bola mataku tak henti-hentinya mencari sosok gadis kecil berkucir itu. Tatapanku seakan mengisyaratkan bahwa aku merindukan senyuman hangat dari bibir kecil nan indah darinya.
Kemana Wati?Wati...Wati...dan Wati...
Hanya nama itu saja yang aku fikirkan. Fikiranku tak fokus. Geklisah hati ini. Perasaanku tiba-tiba tak enak. Apakah ini pertanda buruk. Aahhh, tak aku hiraukan fikiran itu. Mungkin itu hanya fikiranku saja yang terlalu berlarut.
Bel sekolah pun berbunyi. Anak-anak berlarian keluar dari pintu kelasku. Sambil bersalaman terlintas aku lihat orang-orang berjalan menuju rumah yang selalu aku singgahi. Itukan arah menuju rumah Wati, kenapa ibu-ibunya berjilbab semua? Apakah ada pengajian di mesjid dekat rumah Wati.
Tak berapa lama aku mendengar suara dari mesjid. Suara itu bukan adzan yang sering aku dengar, tapi sebuah pengumuman. Pengumuman duka dari sebuah keluarga kecil disekitaran mesjid itu. Ternyata Wati meninggal dunia. Gadis kecil itu sudah tiada.
Aahh, barang kali pengumuman itu salah. Tidak mungkin itu Wati. Kemarin saja aku masih melihatnya menjajakan dagangannya dilapangan sekolah. Tidak, tidak mungkin. Aku masih tidak percaya. Sampai aku bertanya kepada salah seorang orang tua murid dikelasku.
“Bu, bener atuh itu Wati, anak kecil yang sering jualan donat dilapangan sekolah ini meninggal,”aku bertanya dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.
“Iya Bu guru Nana, itu mah Wati yang meninggal. Kemarin dia demam tinggi, tapi masih sempatnya menjajakan donatnya dilapangan ini Bu Guru,”ujar Bu Elis.
Sontak akupun terdiam, tanpa bisa berkata apa-apa. Tak terasa air mataku pun jatuh membasahi pipiku. Aku langsung berlari kearah dimana orang-orang juga mendatanginya. Aku datang, akupun langsung masuk ke rumah petak kecil itu. Aku melihat sebujur badan yang sudah kaku tak bernyawa. Aku pun mendekatinya untuk memastika bahwa itu bukanlah Wati. Tetapi aku salah. Itu adalah Wati. Berita itu benar. Wati, gadis kecil pedagang donat itu terbujur kaku sudah tak bernyawa. Senyumnya kini tak akan pernah aku lihat lagi.
Senyum polos Wati yang selalu menyejukkan hatiku. Seperti donat-donat yang berbaris